JAKARTA, KOMPAS.com — Dugaan terhadap adanya konspirasi menjebak mantan Ketua KPK Antasari Azhar dalam kasus pembunuhan Direktur PT Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnaen semakin menguat.
Pasalnya, jika Antasari memang ingin membunuh Nasrudin, maka untuk apa Antasari harus bercerita kepada Kapolri Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri tentang teror-teror yang dialaminya. Hal ini diungkapkan oleh kuasa hukum Antasari, Denny Kailimang, dalam sidang lanjutan Antasari di PN Jakarta Selatan, Kamis (28/1/2010).
Menurut Denny, pada Desember 2008, Antasari bertemu dengan Kapolri dalam rangka pertemuan kerja. Dalam pertemuan ini, Kapolri sempat menanyakan suka dukanya sebagai Ketua KPK.
Antasari pun menceritakan sejumlah pengalamannya, termasuk mendapat pesan-pesan singkat di telepon genggamnya serta dugaan yang menuduhnya melakukan pelecehan seksual. "Namun rupanya, Kapolri cukup tanggap dengan curahan hati Antasari. Kapolri pun membentuk tim untuk melaksanakan penyelidikan terhadap pelaku teror sebagaimana yang pernah disampaikan Antasari," lanjutnya.
Dalam perkembangannya, Denny mengatakan bahwa pelaku konspirasi mengirim pesan bernada teror ke telepon genggam istri Antasari hingga kemudian lelaki peneror itu menelepon dan mengatakan bahwa Antasari telah tidur dengan istrinya.
"Jika memang terdakwa Antasari ingin menghabisi nyawa Nasrudin, maka untuk apa terdakwa bercerita kepada Kapolri sebelumnya? Untuk apa pula repot-repot sampai akhirnya banyak pihak yang menjadi tahu, bahkan sampai dibentuk tim di kepolisian tentang masalah Nasrudin. Bukankah logikanya jika seseorang ingin membunuh orang lain haruslah diupayakan sedikit mungkin orang tahu, termasuk motif atau penyebabnya?" papar Denny.