Jika Memang Mau Bunuh Nasrudin, maka Antasari Tak Perlu Cerita ke Kapolri...

Kompas.com - 28/01/2010, 19:45 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Dugaan terhadap adanya konspirasi menjebak mantan Ketua KPK Antasari Azhar dalam kasus pembunuhan Direktur PT Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnaen semakin menguat.

Pasalnya, jika Antasari memang ingin membunuh Nasrudin, maka untuk apa Antasari harus bercerita kepada Kapolri Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri tentang teror-teror yang dialaminya. Hal ini diungkapkan oleh kuasa hukum Antasari, Denny Kailimang, dalam sidang lanjutan Antasari di PN Jakarta Selatan, Kamis (28/1/2010).

Menurut Denny, pada Desember 2008, Antasari bertemu dengan Kapolri dalam rangka pertemuan kerja. Dalam pertemuan ini, Kapolri sempat menanyakan suka dukanya sebagai Ketua KPK.

Antasari pun menceritakan sejumlah pengalamannya, termasuk mendapat pesan-pesan singkat di telepon genggamnya serta dugaan yang menuduhnya melakukan pelecehan seksual. "Namun rupanya, Kapolri cukup tanggap dengan curahan hati Antasari. Kapolri pun membentuk tim untuk melaksanakan penyelidikan terhadap pelaku teror sebagaimana yang pernah disampaikan Antasari," lanjutnya.

Dalam perkembangannya, Denny mengatakan bahwa pelaku konspirasi mengirim pesan bernada teror ke telepon genggam istri Antasari hingga kemudian lelaki peneror itu menelepon dan mengatakan bahwa Antasari telah tidur dengan istrinya.

"Jika memang terdakwa Antasari ingin menghabisi nyawa Nasrudin, maka untuk apa terdakwa bercerita kepada Kapolri sebelumnya? Untuk apa pula repot-repot sampai akhirnya banyak pihak yang menjadi tahu, bahkan sampai dibentuk tim di kepolisian tentang masalah Nasrudin. Bukankah logikanya jika seseorang ingin membunuh orang lain haruslah diupayakan sedikit mungkin orang tahu, termasuk motif atau penyebabnya?" papar Denny.
 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau